Информационное Агенство Ахль aль Байт

Источник : Parstoday
суббота

11 май 2024

19:39:08
1457834

Pengakuan Pejabat Uni Eropa, Eropa Mungkin akan Mati

Josep Borrell, Kepala Kebijakan Luar Negeri Uni Eropa baru-baru ini mengungkapkan tantangan baru yang dihadapi Eropa dengan mengatakan,"Kita, bangsa-bangsa Eropa ingin menciptakan lingkaran persahabatan dengan tetangganya, tapi sebaliknya yang kita alami saat ini adalah cincin api,".

Josep Borrell saat berpidato di Universitas Oxford, Inggris pada 3 Mei lalu menjelaskan pandangannya mengenai isu-isu terpenting di dunia, seperti perang Ukraina, isu Palestina, tatanan internasional, pertumbuhan kekuatan Cina, dan perlunya independensi sebagian besar Eropa dari ketergantungannya terhadap Amerika dalam masalah keamanan.

Situs web Layanan luar negeri Uni Eropa mengunggah pernyataan Borrell dengan beberapa penekanan isu.

“Sistem internasional yang biasa kita gunakan setelah Perang Dingin sudah tidak ada lagi. Amerika telah kehilangan posisi hegemoniknya, dan tatanan dunia multilateral setelah tahun 1945 mulai kehilangan tempatnya. Cina menjadi negara adidaya. Apa yang telah dilakukan Cina dalam 40 tahun terakhir merupakan hal unik dalam sejarah umat manusia," ujar Borrell.

"Selama 30 tahun terakhir, kontribusi Cina terhadap PDB dunia (berdasarkan paritas daya beli) telah meningkat dari 6% menjadi hampir 20%, sementara kita, orang-orang Eropa, menurun dari 21% menjadi 14%, dan Amerika Serikat dari 20% menjadi 15%. Hal ini adalah perubahan dramatis dalam lanskap perekonomian global," tegasnya.

Kepala Kebijakan Luar Negeri Uni Eropa menjelaskan isu tanah masih menjadi masalah geopolitik penting.

"Di beberapa selat penting, seperti Laut Merah, kami bahkan terlibat dengan misi angkatan laut Uni Eropa. Ada juga dua perang di mana orang-orang memperebutkan tanah. Ini menunjukkan bahwa isu geografi telah kembali. Kita diberitahu bahwa globalisasi telah membuat geografi menjadi tidak relevan, namun ternyata tidak. Sebagian besar konflik di kawasan kami terkait dengan pertanahan. Itu adalah sebuah negeri. Tanah yang dijanjikan kepada dua pihak dalam kasus Palestina. dan tanah di persimpangan dua dunia dalam kasus Ukraina. “Ini tanahku”, “Tidak, ini tanahku”. Dan perebutan tanah ini akan menumpahkan banyak darah," papar Borrell.

"Pada saat yang sama, kita menyaksikan percepatan tren global. Perubahan iklim tidak lagi menjadi masalah di masa depan. Kerusakan iklim terjadi saat ini, bukan untuk besok, Perkembangan teknologi, khususnya yang dibicarakan semua orang tentang kecerdasan buatan, menciptakan perubahan yang tidak dapat kita pahami sepenuhnya," ungkapnya.

Populasi global, tutur Borrell, juga berubah dengan cepat.

"Ketika saya berbicara tentang keseimbangan populasi, saya berbicara tentang migrasi, terutama di Afrika dimana 25% populasi dunia akan tinggal pada tahun 2050. Pada tahun 2050, satu dari empat orang akan tinggal di Afrika, sementara kita melihat meningkatnya kesenjangan, menurunnya demokrasi, dan terancamnya kebebasan," tegasnya.

Di bagian penting pidatonya di Universitas Oxford, Kepala Kebijakan Luar Negeri Uni Eropa menekankan, "Dalam perspektif ini, peran Uni Eropa dan peran Inggris harus didefinisikan. Saya tidak tahu apa peran kami nantinya. Kita mendengar peringatan bahwa Eropa mungkin akan mati. Lalu Apa yang harus kita lakukan?"(PH)

342/